Text
Selamat Mengaku
Inilah buku Seri Selamat terbaru pada medio 2018 ini dari Pdt. Dr. Andar Ismail. Dalam buku “Selamat Mengaku” ini ditulis, identitas kita banyak: nama, gender, profesi dan lainnya. Itu jati diri yang kita akui. Tiap hari kita menyatakan akunya diri kita. Kita mengakukan dan mengakui identitas kita. Kristus mengakui identitas kita. Tegas-Nya, “Kamu adalah sahabat-Ku” (Yoh. 15:14). Kita pun mengakui identitas Dia. “Yesus Kristus, Juruselamat kita” (Tit. 3:6). Buku Seri Selamat ke-29 ini mengajak kita mewawas diri: Siapa sebenarnya aku? Untuk apa aku hidup? Untuk siapa aku hidup?
Dalam sebuah tulisannya, tokoh pers dari Majalah Tempo, Hardjoko Trisnadi juga berkomentar tentang karya Pdt. Andar Ismail ini. “Sebagai seorang jurnalis dan salah seorang pendiri Majalah Tempo, saya tentu cermat menilai mutu sebuah tulisan. Dalam pengamatan saya buku-buku renungan Seri Selamat karya Andar Ismail adalah tulisan yang padat, bermutu tinggi, enak dibaca, dan terutama perlu disimak isinya. Meminjam semboyan Majalah Tempo saya menilai bahwa buku-buku Seri Selamat secara konsisten bersifat “jujur, jelas, jerni dan jenaka pun bias,” ujar Harjoko, peraih penghargaan “Pengabdian Seumur Hidup Bidang Pers (2018) ini.
Pdt. Andar Ismail pun menulis, saat mengakui nama dan tempat/tanggal lahir, kita hanya mengiyakan diri. Namun, saat mengakui kepribadian dan keyakinan, kita mempertanyakan diri: Itukah identitasku? Itukah jati diri yang kudambakan? Itukah diriku yang sesungguhnya? Banyak unsur identitas yang masih perlu kita bentuk. Hidup berisi tugas membentuk jati diri. Tugas itu berlangsung sepanjang usia. Tugas itu tidak gampang. Oleh sebab itu, kita mengaku, “Kami tanah liat, dan engkau yang membentuk kami” (Yes. 64:8, BIMK). Tiap hari kita mengaku, yaitu menyatakan akunya diri kita. Dengan Seri Selamat ke-29 ini kita mengakukan dan mengakui identitas kita. Selamat mengaku!
Dalam salah satu tulisan di buku ini berjudul “Apa Artinya Mengaku?” ada ditulis, pemuda itu mengaku sudah lama menaksir tetangganya. Montir di pinggir jalan mengaku bisa, tetapi mobil yang diperbaikinya malah rusak. Maling itu akhirnya mengaku. Saksi di pengadilan mengaku lupa. Kita mengakui keberadaan Republik Timor Leste. Dua orang anak mengakui kelereng yang hanya satu itu sebagai miliknya. Orang-orang itu mengaku bapak kepada pastor panti asuhan, dan pastor itu mengaku anak kepada mereka. Para donatur mengakui biaya pembagian buku. Tiap minggu kita mengaku percaya di gereja. Pengusaha itu tidak mengakui bahwa desa ini dulu adalah kampung halamannya
Tidak tersedia versi lain